Entah lah
Kita tak pernah tau lebih.
Siapa lagi yang mampu menemani serta menghibur ... setelah mereka.
Sementara yang kita tau,hanyalah sebatas kurang tak sungguh lebih.
Tiap jengkal kaki adalah kenangan...
Kaki menjelma sebagai diriku, sedang kau tetaplah jejak yang mencari masa lalu.
Kebaikan ialah waktu ,ketika mempertemukan mu lebih awal dari dekap ku.
Meski sayang ,Namun waktu masih punya cerita yang lain ...tuk kita.
Aku telah mengenal serta belajar dalam sandiwara ter INDAH (bagi ku) dari mu...meski tak cukup nyawa sebagai taruhanya.
Demi mengulang waktu indah bersama.
Membunuh perasaan sama halnya dengan berusaha hidup kembali, sebab itu selalu merenggut kebahagiaan yang semu.
Terkadang aku pun amat marah dalam kian banyak diam.
Sebab yang ku pahami, lidah ialah nada yang yang belajar menemukan tempo lagu indah.
Sebagian yang lain tetap menjadi lain, sisanya memilih menjadi lain dari biasanya. tolong ajarkan cara sederhana yang lain.
Setia seperti yang kau katakan, hanyalah persoalan sepi yang tak pernah ingin kau ungkit lagi.
Pada linimasa yang sama kita adalah sepasang ingin dalam angan, menatap senja penuh doa.
Ada ruang tanya yang jarang kau singgahi...
Seru itu tanda yang kadang kau acuhkan.. Sedang aku ialah titik diakhir bacaanmu.
Haruskah aku bahagia karena mengenalmu..!? Atau barangkali harus bersedih penuh sendu karena tak bisa lebih sedang dari itu.!!
Luka yang paling tenang adalah memendam kemunafikan...
Namun yang paling luka adalah membiarkannya rasa itu mati terbunuh waktu.
Senyummu ibarat cawan, sedang aku mengaku katup yang hidup saat kau mulai memekarkannya dalam jarak kelopak mataku.
Aku datang diwaktu yang gagal kau perkirakan...
Bukan seperti kehadiran..
Hanya sedikit menyerupai kenangan.
Adakah yang lebih setia dari pagi...?
Sedang senja masihlah menimbun ingatan dekat jendela...
Adakah yang lebih tabah dari hujan dengan mendungnya yang senantiasa menyembunyikan air mata serta luka...?
Barangkali kita yang jarang saling mengenang... rindu itu hampa.
Sisa kenangan itu kan tiba pada ujung sejarah.
Kian banyak harap yang takut menghadap, sebagian menjadi hirup yang pikun memikul hidup...
Tak jarang aku pun salah mengartikan kiprah sebuah senyuman ....
Sebab kala tangismu adalah bahagia .
Kukatakan sulit, bila hanya sekedar mengertimu ...sedang kau masihlah berpura-pura tuli untuk sekedar mendengar.
Saat inginmu membuncah kau akan lupa awal langkah ,bahwa semua hanya sebatas semu tanpa jeda.
Sanggupkan lah tak berduka kala perpisahan tiba...
Sebab segala apa yang kita kasihi darinya, mungkin kan nampak lebih nyata nan indah dari kejauhan, ibarat gunung yang tampak lebih agung dari padang nan dataran.
dan
Tuhan ciptakan kekhawatiran dan kesedihan agar aku bisa bersyukur saat semuanya berlalu.
DiciptakanNya kenangan, agar kita menghargai artinya kehadiran dan mengikhlaskan kehilangan.
#ENTAHlah
Sampai saat ini... Bagiku hanya do'a yang setia pada tengadah ...
Sementara waktu ialah wadah yang senantiasa mampu membentuknya menjelma apa saja sebagaimana hasrat pengucapnya.
Siapa lagi yang mampu menemani serta menghibur ... setelah mereka.
Sementara yang kita tau,hanyalah sebatas kurang tak sungguh lebih.
Tiap jengkal kaki adalah kenangan...
Kaki menjelma sebagai diriku, sedang kau tetaplah jejak yang mencari masa lalu.
Kebaikan ialah waktu ,ketika mempertemukan mu lebih awal dari dekap ku.
Meski sayang ,Namun waktu masih punya cerita yang lain ...tuk kita.
Aku telah mengenal serta belajar dalam sandiwara ter INDAH (bagi ku) dari mu...meski tak cukup nyawa sebagai taruhanya.
Demi mengulang waktu indah bersama.
Membunuh perasaan sama halnya dengan berusaha hidup kembali, sebab itu selalu merenggut kebahagiaan yang semu.
Terkadang aku pun amat marah dalam kian banyak diam.
Sebab yang ku pahami, lidah ialah nada yang yang belajar menemukan tempo lagu indah.
Sebagian yang lain tetap menjadi lain, sisanya memilih menjadi lain dari biasanya. tolong ajarkan cara sederhana yang lain.
Setia seperti yang kau katakan, hanyalah persoalan sepi yang tak pernah ingin kau ungkit lagi.
Pada linimasa yang sama kita adalah sepasang ingin dalam angan, menatap senja penuh doa.
Ada ruang tanya yang jarang kau singgahi...
Seru itu tanda yang kadang kau acuhkan.. Sedang aku ialah titik diakhir bacaanmu.
Haruskah aku bahagia karena mengenalmu..!? Atau barangkali harus bersedih penuh sendu karena tak bisa lebih sedang dari itu.!!
Luka yang paling tenang adalah memendam kemunafikan...
Namun yang paling luka adalah membiarkannya rasa itu mati terbunuh waktu.
Senyummu ibarat cawan, sedang aku mengaku katup yang hidup saat kau mulai memekarkannya dalam jarak kelopak mataku.
Aku datang diwaktu yang gagal kau perkirakan...
Bukan seperti kehadiran..
Hanya sedikit menyerupai kenangan.
Adakah yang lebih setia dari pagi...?
Sedang senja masihlah menimbun ingatan dekat jendela...
Adakah yang lebih tabah dari hujan dengan mendungnya yang senantiasa menyembunyikan air mata serta luka...?
Barangkali kita yang jarang saling mengenang... rindu itu hampa.
Sisa kenangan itu kan tiba pada ujung sejarah.
Kian banyak harap yang takut menghadap, sebagian menjadi hirup yang pikun memikul hidup...
Tak jarang aku pun salah mengartikan kiprah sebuah senyuman ....
Sebab kala tangismu adalah bahagia .
Kukatakan sulit, bila hanya sekedar mengertimu ...sedang kau masihlah berpura-pura tuli untuk sekedar mendengar.
Saat inginmu membuncah kau akan lupa awal langkah ,bahwa semua hanya sebatas semu tanpa jeda.
Sanggupkan lah tak berduka kala perpisahan tiba...
Sebab segala apa yang kita kasihi darinya, mungkin kan nampak lebih nyata nan indah dari kejauhan, ibarat gunung yang tampak lebih agung dari padang nan dataran.
dan
Tuhan ciptakan kekhawatiran dan kesedihan agar aku bisa bersyukur saat semuanya berlalu.
DiciptakanNya kenangan, agar kita menghargai artinya kehadiran dan mengikhlaskan kehilangan.
#ENTAHlah
Sampai saat ini... Bagiku hanya do'a yang setia pada tengadah ...
Sementara waktu ialah wadah yang senantiasa mampu membentuknya menjelma apa saja sebagaimana hasrat pengucapnya.
Comments
Post a Comment