(William C, 2001: 27)

Agama wahyu mempunyai kekuasaan di mana realitas yang tidak mengikutinya akan terperosok,
Hanya kemampuan nalarlah yang mempunyai kekuasaan semacam itu.

Saya hidup di saat ini, dengan nalar saya menolak apa yang ditolak akal, dan kemudian sejak itu kehadiran saya adalah akal. Namun saya bisa menolaknya dengan penyingkapan (kasyf) atau dengan wahyu.
Dengan agama wahyu saya menolak apa yang ditolak agama tersebut, sejak itu kehadiran saya adalah agama wahyu.

Saya tidak bisa menolaknya dengan kasyf atau nalar. Berkenaan dengan penyingkapan, akal tak menolak apapun. Sebaliknya dia meneguhkan segala sesuatu menuju tingkat yang lebih baik. (William C, 2001: 27)

Comments